I’m still processing.

Sudah hampir sebulan sejak wisuda Dauroh Qolbiyah (DQ) di Daarut Tauhiid Bandung. A place where everything feels different, dimana penghayatanku akan segala sesuatunya menjadi beda setelah ikut pesantren selama satu bulan tersebut. Apa yang beda? Well, actually, almost everything. Things started to feel more… Meaningful, in many ways.

Sholat yang biasanya hambar, asal lewat, asal dilaksanain biar ga merasa berdosa, sering ditunda, bahkan kadang sekip, sekarang berubah. Sholat menjadi sesuatu yang ditunggu-tunggu, bahkan dari sebelum adzan udah ambil wudhu. Sebelumnya, sholatku biasanya 3-5 menit selesai, biasanya sering lupa rakaat, biasanya sambil mikirin abis sholat mau ngapain, biasanya baca suratnya yang paling pendek, biasanya sering ga sadar tiba-tiba udah assalamualaikum, biasanya baca doa yang udah template dan langsung lipat mukena. Haha :’D tapi, ya memang alasan-alasan inilah yang bikin aku sadar hidupku mulai salah, karena sholatnya terasa salah. Makanya ketika salah seorang teman me-refer ku ke Pesantren DT, aku langsung cusss tanpa ragu.  Had to lose many things, but my guts told me to go for it. So I did.

Sholat mungkin merupakan salah satu hal yang terasa beda, dan sebenernya ga cuma sholat aja, tapi banyaaakk aspek dalam hidupku yang mulai berubah setelah aku ikut DQ ini. Kerudungku mulai memanjang, kehidupan medsos mulai kubatasi dan kuganti dengan baca buku / tilawah, pergaulan dengan lawan jenis juga mulai kujaga. Ga mudah, tapi aku yakin ini adalah hidayah dari Allah. Dan yang selalu aku yakini, jangan pernah menyepelekan hidayah dalam bentuk apapun. Sebelumnya, I called it “universe’s calling”, karena aku cukup tertarik pada ajaran sebelah yang selalu mengisyaratkan “semesta”, oh how I love that word until now. Tapi, sebenernya semesta ini milik Allah, and the calling comes from Allah, jadi mulai sekarang kuganti istilah tersebut dengan “hidayah” hehe. Sebelumnya mah aku liberal banget, tapi sekarang mencoba untuk teguh pada Islam. Asik.

DQ is a life-changing moment banget sih bagi aku. Di sana, aku merasa kembali jadi manusia. Aku merasa ditampar, bikin inget lagi bahwa aku memang manusia. Seorang makhluk, yang ga akan pernah bisa lepas dari Kholik-nya. Membuatku sadar kembali akan kewajiban-kewajibanku sebagai seorang insan, yang diciptakan-Nya hanya untuk beribadah.  Seorang anak yang memiliki kewajiban untuk mengantar dan membukakan pintu syurga untuk ayah dan ibuku. Seorang perempuan, yang memiliki derajat yang berbeda dengan laki-laki, tidak lebih tinggi atau lebih rendah. Seorang calon ibu yang akan mendidik anak-anakku nanti yang juga memiliki tanggung jawab memakmurkan diin Islam, dan tugas pertama seorang ibu tentunya adalah memilih calon ayah yang juga akan menjadi imam untukku dan anak-anak. Well, aku yang sebelumnya memang terlalu sombong untuk menyadari ini semua. Dan memang doaku di awal ikut pesantren adalah agar Allah melembutkan hatiku yang keras. Alhamdulillah dari hari ke hari aku merasa Allah semakin dekat, dan ibadah jadi kerasa nikmat banget. Mungkin, sensasi ini yang selama ini aku cari. Ketenangan, sob.

Hari-hariku di pesantren ga mudah, beradaptasi dengan kebiasaan baru kan memang ga pernah gampang. Mulai dari tahajud jam 3 subuh, sholat lima waktu yang harus di mesjid setiap waktu, kajian shubuh yang masyaAllah ngantuknya, puasa senin-kamis, pakai gamis-kerudung gebay-manset-kaos kaki setiap waktu, dan banyak hal lain yang rasanya berat karena belum terbiasa. Tapi alhamdulillah selama sebulan kemarin ibadah kerasa sangat dipermudah, lingkungannya mendukung banget untuk melaksanakan hal-hal berat tadi. Di sini juga bikin aku sadar, masih ada loh, orang-orang yang ketika adzan langsung ke mesjid, orang-orang yang berlomba untuk menghafalkan al-Qur’an, orang-orang yang datang dari jauh (luar kota, bahkan luar pulau) untuk ikut kajian, dll. Akunya aja yang selama ini pandangannya sempit bahkan menutup mata, untuk orang-orang seperti mereka.

Well, DQ ini sejujurnya ga seketika membuat aku jadi ukhty (iya pake y) yang sholehah. Tapi, bikin aku bercita-cita untuk menjadi salah satu dari mereka. Ga seketika membuat aku suci dari dosa, tapi memotivasiku untuk terus taubat, mohon ampunan, dan tidak mengulangi dosa serupa. Ga seketika membuat aku pintar agama, tapi bikin sadar bahwa ilmuku tentang agama masih sangat sangat dangkal dan harus terus diperdalam. Ga seketika bikin aku jadi ahli syurga, tapi mengubah tujuan hidupku yang asalnya sekedar “bahagia” menjadi “syahid”. Yang pasti di DQ ini aku belajar untuk mencintai Allah, dan mencintai sesuatu yang lainnya hanya karena Allah. (aamiin.) Dan sejujurnya setelah pulang dari DQ, godaan dari dunia luar sangaatt besar, sekarang pun masih bingung bagian mana dari kehidupanku sebelumnya yang masih boleh aku pertahankan, dan mana yang harus aku tinggalkan. Karena jujur, berat. And that’s why I’m still processing everything until now.

So, hey, future me, in case you read this, jangan lupa ya pencerahan yang didapetin selama di DQ ya, semoga istiqomah, dan bukan nulis ini in the spur of moment aja. 🙂

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s